I. MUQODIMAH
Pesantren sebagai Sarana Pendidikan yang sangat dikenal dalam pembangunan Masyarakat Indonesia, khususnya yang beragama Islam. Dewasa ini Pesantren semakin mejadi pusat perhatian, oleh karena itu Pesantren dengan segala kekurangan dan kelebihannya telah berperan besar dalam usaha mengangkat martabat dan derajat bangsa Indonesia dari berbagai tindakan baik yang bersifat Politis maupun Kultural.
Peran besar Pesantren berada digaris depan dalam melawan penjajahan yang dimulai dengan penanaman akan Nasionalisme yang kuat melalui sistem pendidikan seperti itu, betapapun keadaannya hingga dewasa ini masih tetap memegang peran yang menentukan terutama untuk masyarakat di pedesaan, bahkan dengan berbagai masa pembaharuan yang dilakukan beberapa Pesantren tengah mempersiapkan diri menjadi Pendidikan Tepat Guna untuk mengisi berbagai tugas yang penting dalam kelanjutan hidup berbangsa dan bernegara.
Dalam rangka itulah beberapa Pesantren telah menjadi pusat-pusat gerakan pengenalan Ekonomi Kebersamaan (Koperasi), pengenalan Perguruan Tepat Guna, Pelestarian Lingkungan dan lain-lain yang membawa pengaruh besar terhadap masyarakat sekitar.
Pesantren Al-Huda menyadari peliknya permasalahan yang dihadapi, karena itu dibentuklah beberapa lembaga seperti Lembaga Pendidikan dan Pengajian, Lembaga Da’wah dan Pengabdian Masyarakat serta Lembaga Pengembangan Ekonomi dan Sumber Daya Santri.
Peliknya permasalahan yang dihadapi dengan sifat Istiqomah dan senantiasa mengharap ridlo dan inayah Alloh SWT, Al-Huda tetap berjuang, berusaha dengan mengharapkan bantuan dari berbagai pihak terutama permasalahan pendanaan untuk sarana-sarana fisik karena mengingat belum seimbangnya antara tuntutan kebutuhan dan pengadaan.
II. SEJARAH BERDIRINYA PESANTREN AL-HUDA
Bapak H. Suja’i adalah seorang tokoh Masyarakat yang sangat peduli terhadap Pendidikan Agama. Sepulangnya dari tanah suci Makkah sekitar tahun 1970, dia membangun sebuah Madrasah di Kp.Pasir Asem Desa Gununghalu (sebelum pemekaran) kemudian diberi nama A-Huda. Pada mulanya tidak banyak murid yang belajar di madrsah ini. Kebanyakan anak-anak kecil setingkat SD dan SLTP yang mengaji pada malam hari. Mereka dibina oleh Ustad-Ustad yang berasal dari Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Musri’ yang letaknya cukup jauh dan pada saat itu dipimpin oleh KH. Ahmad Faqih Alm murid dari KH. Zaenal Mustofa (Alm) Sukamanah Tasikmalaya yang terkenal dengan pahlawan Nasional
Adalah KH. Zaenal Arifin sebagai menantu H.Suja’I (Alm), sekaligus seorang alumnus Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ Ciranjnag-Cianjur yang menjadi penerus dalam mengembangkan Madrasah Al-Huda sampai dibukanya pengajian siang yang dikenal dengan istilah “Sakola Agama” (Madrasah Diniyah) setelah itu Madrasah Al-Huda berkembang menjadi sebuah Pondok Pesantren dan sampai sa’at ini berdiri di bawah binaan “Yayasan Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’” dengan nomor akta Notaris NO. WB. DI. UM. 07. 08. 1983
Amanat Guru beliau kerjakan dengan tekun dan istiqomah, sehingga para santri bertambah dan pada awal tahun 1971 M santrinya berjumlah 100 orang sampai sekarang berjumlah 250 Orang.
Keberadaan Pesantren Al-Huda secara geografis berada sebelah utara Ibukota Desa Sindangjaya kecamatan Ciranjang dengan tata letak di tengah-tengah lingkungan penduduk mayoritas non muslim (Kristen) yang dikelilingi oleh gereja-gereja besar yang padat dengan kegiatan kebaktian dan misionaris. Bahkan terindikasi menjadi pusat Kristenisasi di Jawa Barat.
Tantangan dan hambatan ini lebih berat dirasakan karena kesadaran Umat Islam relatif rendah dan bersifat apatis, ditambah lagi adanya tantangan dari Umat Kristen dari kampung sekitar, bahkan sampai saat ini sembilan Gereja lebih telah mereka miliki dan Pesantren Al-Huda menjadi salah satu benteng pertahanan agar upaya kristenisasi dapat ditahan.
Disamping sembilan Gereja yang semakin bertambah, mereka juga memiliki fasilitas pendidikan seperti : Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), dua Gedung Aula dan Koperasi ditambah dengan bangunan sanggar seni yang terletak di daerah Rawaselang. Walaupun tantangan dan hambatan yang dihadapi cukup berat, tetapi berkat ketabahan dan kesabaran serta bertawakal kepada Alloh SWT sedikit demi sedikit masyarakat yang berada disekitar Pondok Pesantren mengerti akan kifrah Pesantren sebagai Lembaga Akhlaq.
III. KEADAAN SANTRI KYAI DAN GURU/USTADZ
Alhamdulillah tahun demi tahun Pesantren Al-Huda semakin mendapatkan hati dari masyarakat yang mempercayakan anaknya untuk dididik dan dibina di Pesantren Al-Huda, mereka berdatangan dari Cianjur, Bogor, Sukabumi, Bandung, untuk saat ini jumlah santri mencapai 250 orang. Jumlah tersebut terdiri Santriawan 150 orang dan Santriawati 100 orang, sedangkan Jumlah Ustadz adalah 20 orang terdiri dari Dewan Kyai 11 orang dan 9 orang santri senior. Alumni hingga kini mencapai 2000 orang yang tersebar diberbagai daerah.
